Di Tengah Badai Global, Industri Keramik RI Tancap Gas hingga 73%
JAKARTA, 5 JANUARI 2026 – Industri keramik nasional tampil sebagai anomali positif di tengah perlambatan sektor manufaktur global sepanjang 2025.
Saat banyak industri masih tertekan oleh pelemahan permintaan dan ketidakpastian ekonomi dunia, sektor keramik justru mencatat lonjakan kinerja yang signifikan, baik dari sisi utilisasi pabrik maupun ekspansi kapasitas produksi.
Data Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) menunjukkan tingkat utilisasi produksi industri keramik naik dari 66% pada 2024 menjadi 73% di 2025. Peningkatan ini turut mendorong pertumbuhan output nasional secara agresif.
Sepanjang 2025, produksi keramik nasional bertambah sekitar 62 juta meter persegi, atau tumbuh 15% dibandingkan tahun sebelumnya.
Dengan capaian tersebut, Indonesia tercatat sebagai satu-satunya negara produsen keramik global yang mampu menaikkan utilisasi sekaligus memperluas kapasitas produksi secara bersamaan di tengah tekanan ekonomi internasional.
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menilai capaian ini mencerminkan ketahanan struktur industri dalam negeri. “Di antara negara produsen keramik dunia, hanya Indonesia yang berhasil meningkatkan utilisasi dan melakukan ekspansi kapasitas secara simultan sepanjang 2025,” ujarnya, Senin (5/1/2026).
Menurut Edy, solidnya performa industri keramik tidak terlepas dari konsistensi kebijakan pemerintah dalam melindungi pasar domestik. Instrumen antidumping, safeguard, hingga penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib dinilai efektif menahan laju impor sekaligus menjaga iklim investasi.
ASAKI juga menyoroti peran strategis Kementerian Perindustrian di bawah kepemimpinan Agus Gumiwang Kartasasmita. Kebijakan perpanjangan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT), penguatan regulasi SNI, hingga rencana pengaturan entry point impor dinilai memberi kepastian bagi pelaku industri untuk menambah kapasitas produksi.
Memasuki 2026, ASAKI memproyeksikan tren pertumbuhan berlanjut. Tingkat utilisasi industri keramik diperkirakan meningkat ke kisaran 80%, dengan volume produksi mencapai sekitar 537 juta meter persegi, tumbuh 13% dibandingkan realisasi 2025 yang berada di level 474,5 juta meter persegi.
Sinyal pemulihan sebenarnya telah terlihat sejak kuartal IV/2025. Utilisasi industri tercatat meningkat bertahap, dari 75% pada Oktober, 76% di November, hingga 78% pada Desember.
Dari sisi permintaan, industri berharap dorongan signifikan datang dari realisasi Program 3 Juta Unit Rumah pada 2026. Jika program tersebut berjalan sesuai rencana, ASAKI memperkirakan utilisasi industri keramik berpotensi melonjak hingga mendekati 96%.
Meski prospeknya menjanjikan, industri masih menghadapi sejumlah tantangan struktural. Salah satu yang paling krusial adalah keterbatasan pasokan gas bumi.
Di Jawa Barat, pasokan gas industri baru terpenuhi sekitar 60%, sementara di Jawa Timur hanya 50–55%.
Kekurangan ini memaksa pelaku usaha menggunakan gas dengan skema surcharge berbiaya tinggi hingga USD15,4 per MMBTU, jauh di atas harga HGBT USD7 per MMBTU.
Tekanan juga datang dari sisi perdagangan internasional. Sepanjang 2025, impor keramik melonjak tajam, terutama dari India yang naik 55%, Vietnam 32%, dan Malaysia yang melesat hingga 210%.
Merespons kondisi tersebut, ASAKI berencana menggandeng Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) untuk mengajukan penyelidikan dumping terhadap produk keramik asal India pada semester I/2026. Asosiasi juga tengah mengumpulkan data terkait dugaan praktik transhipment produk China melalui Malaysia.
Selain itu, isu ketersediaan bahan baku tanah liat, khususnya di Jawa Barat akibat pencabutan sejumlah izin tambang, turut menjadi perhatian serius. ASAKI meminta pemerintah memastikan kesinambungan pasokan agar ekspansi industri tidak terhambat.
“Dengan peluang yang besar namun tantangan yang tidak ringan, 2026 akan menjadi tahun penentuan bagi industri keramik nasional untuk menjaga momentum pertumbuhan yang berkelanjutan,” pungkas Edy.