EBITDA MDKA Tumbuh 33% pada 9M 2025, Proyek Emas Pani dan Nikel Masuki Fase Kunci
JAKARTA, 31 DESEMBER 2025 – PT Merdeka Copper Gold Tbk (BEI: MDKA) mencatat pertumbuhan laba operasional yang solid sepanjang sembilan bulan pertama 2025, di tengah tekanan pendapatan dan tantangan operasional.
Kinerja positif ini ditopang oleh lonjakan margin emas serta efisiensi biaya di lini bisnis nikel terintegrasi.
Dalam laporan kinerja kuartal III dan periode sembilan bulan yang berakhir 30 September 2025 (9M 2025), Merdeka membukukan pendapatan sebesar USD1,28 miliar, turun 23 persen secara tahunan (YoY). Meski demikian, EBITDA Perseroan justru melonjak 33 persen YoY menjadi USD295 juta, mencerminkan ketahanan profitabilitas dan disiplin operasional.
Peningkatan EBITDA terutama didorong oleh kenaikan harga jual rata-rata emas, lonjakan margin emas hingga 59 persen, serta optimalisasi struktur biaya di seluruh rantai nilai nikel Merdeka.
Presiden Direktur PT Merdeka Copper Gold Tbk, Albert Saputro, menyatakan kinerja tersebut mencerminkan kekuatan portofolio Merdeka yang terdiversifikasi.
Menurutnya, fokus pada kualitas eksekusi dan pengendalian biaya tetap menjadi kunci di tengah penurunan kontribusi pendapatan dari segmen pengolahan nikel.
“Meski menghadapi tantangan operasional, Merdeka tetap mampu mencatat pertumbuhan EBITDA yang kuat, didukung oleh harga emas yang lebih tinggi dan perbaikan margin di sebagian besar operasi,” ujarnya.
Tambang Emas Pani Kian Dekat Produksi
Dari sisi pengembangan proyek, kemajuan signifikan dicatat pada Tambang Emas Pani yang dikembangkan PT Merdeka Gold Resources Tbk (BEI: EMAS), ditandai dengan dimulainya penumpukan bijih (ore stacking). Dengan capaian tersebut, produksi emas perdana tetap ditargetkan pada kuartal I 2026.
Perseroan juga mengonfirmasi potensi peningkatan kapasitas heap leach dan pabrik pengolahan emas melampaui panduan awal 7 juta ton, membuka peluang peningkatan produksi emas tahunan. Selain itu, pengembangan proyek Carbon-in-Leach (CIL) Pani dipercepat, dengan konstruksi awal direncanakan mulai kuartal I 2026.
Studi kelayakan proyek CIL yang ditargetkan rampung pada awal 2026 kini disusun dengan basis kapasitas 12 juta ton, menggantikan rencana awal bertahap dari 7,5 juta ton. Strategi ini memungkinkan kapasitas pengolahan tinggi dicapai lebih cepat dan mendukung target produksi puncak 500.000 ons emas per tahun.
Pada 2026, Tambang Emas Tujuh Bukit dan Tambang Emas Pani diproyeksikan menjadi pendorong utama lonjakan produksi emas dan arus kas Merdeka.
Di segmen nikel, kinerja operasional PT Merdeka Battery Materials Tbk (IDX: MBMA) tetap menunjukkan ketahanan. Produksi tambang SCM (Sulawesi Cahaya Mineral) mencatat kenaikan signifikan, dengan output saprolit naik 89 persen dan limonit meningkat 51 persen. Meski produksi Nickel Pig Iron (NPI) lebih rendah, tingkat margin masih terjaga.
Sementara itu, proyek Acid Iron Metal (AIM) yang dikelola PT Merdeka Tsingshan Indonesia berada pada jalur untuk mencapai produksi penuh pada akhir 2025, mencakup fasilitas pirit, asam, logam klorida, hingga pabrik katoda tembaga.
Pada pengembangan High Pressure Acid Leach (HPAL), PT ESG New Energy Material mencatat produksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebesar 7.181 ton dan penjualan 7.554 ton pada kuartal III 2025.
Adapun pembangunan pabrik HPAL PT Sulawesi Nickel Cobalt dengan kapasitas 90.000 ton nikel per tahun terus berjalan sesuai jadwal, dengan komisioning lini pertama ditargetkan pertengahan 2026.
Prospek Jangka Menengah