Produksi Jagung Jatim Diproyeksi 5,4 Juta Ton di 2026, Surplus Tembus 1,2 Juta Ton

photo

SIDOARJO, 9 JANUARI 2026 – Produksi jagung Jawa Timur diproyeksikan mencapai 5,4 juta ton pada 2026, memperkuat posisi provinsi ini sebagai salah satu lumbung jagung nasional. Proyeksi tersebut ditopang data luas panen, produktivitas, serta tren kesejahteraan petani sepanjang 2025.

Mengacu Angka Sementara BPS 2025 yang dirilis 5 Januari 2026, luas panen jagung Jawa Timur mencapai 755.417 hektare dengan produktivitas 6,07 ton per hektare.

Total produksi Jagung Pipilan Kering (JPK) kadar air 28% tercatat 6.203.461 ton, sedangkan JPK kadar air 14% mencapai 4.585.921 ton. Rata-rata harga jagung di tingkat produsen berada di kisaran Rp5.985 per kilogram.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menegaskan capaian tersebut menjadi bukti konsistensi daerah dalam memperkuat ketahanan pangan.

“Alhamdulillah, Indonesia oleh Pak Presiden Prabowo telah dinyatakan swasembada pangan. Kita sudah swasembada beras, hari ini panen jagung, dan target swasembada jagung bisa dicapai tahun 2026,” kata Khofifah.

Dari sisi hulu, realisasi tanam jagung Jatim sepanjang 2025 mencapai 990.011 hektare. Sementara itu, luas baku sawah Jawa Timur tercatat 1.207.997 hektare, terdiri atas lahan irigasi 719.598 hektare (59,57%) dan non-irigasi/tadah hujan 488.379 hektare (40,43%).

“Jawa Timur merupakan salah satu lumbung jagung terbesar di Indonesia karena kontribusi produksi kita sangat signifikan terhadap kebutuhan nasional,” ujar Khofifah.

Untuk 2026, produksi JPK kadar air 14% diproyeksikan 5.445.158 ton. Dengan kebutuhan konsumsi sekitar 89.820 ton dan kebutuhan pakan ternak diperkirakan 4.152.060 ton, potensi surplus jagung diprediksi mencapai 1.203.818 ton.

Khofifah menekankan bahwa penguatan produksi juga harus berdampak pada kesejahteraan petani. “Konsen utama kita selalu petani. Alhamdulillah, menurut BPS, NTP Jawa Timur Desember 2025 mencapai 118,96, naik 3,95%, dan menjadi kenaikan tertinggi di Pulau Jawa,” jelasnya.

Ia menambahkan, jagung merupakan komoditas strategis karena menopang pangan sekaligus pakan ternak. “Kalau kita bisa bertahan dalam swasembada jagung, insya Allah kualitas ternak juga ikut meningkat,” pungkas Khofifah.